Menyongsong Solidaritas Global South hingga Masa Depan Ekonomi Biru
Ilustrasi Perahu Nelayan di Lautan (Source: Sandsun, Envato)
Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang digelar pada tahun 1955 telah memantik sebuah gerakan antara negara berkembang. Kerja Sama Selatan-Selatan lahir dari pengalaman yang sama di antara negara berkembang dan berdasarkan pada tujuan bersama dan solidaritas satu sama lain.
Sejak diadakannya konferensi bersejarah tersebut, telah banyak jenis kerja sama yang terlahir dari kesadaran negara-negara berkembang di dunia. Mulai dari kerja sama ekonomi, budaya dan hingga di bidang sains. Bahkan, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memfasilitasi gerakan Kerja Sama Selatan-Selatan dengan membentuk badan khusus bernama United Nations Office for South-South Cooperation (UNOSSC) yang mengurus Kerja Sama Selatan-Selatan pada tahun 1978.
Negara-negara Selatan atau yang saat ini sering disebut sebagai Global South, memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi tantangan-tantangan global di masa modern. Gerakan kerja sama antarnegara Selatan sudah sering terjadi dan bahkan masih memiliki potensi lebih.
Presiden Majelis Umum PBB ke-78, Dennis Francis, pada UN Day for South-South Cooperation 2023, menyebut bahwa Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular bukanlah sekadar pilihan; keduanya merupakan alat yang penting namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai perdamaian, kesejahteraan, kemajuan dan keberlanjutan global bagi semua.
Sejalan dengan itu, semangat persatuan dan kerja sama negara-negara berkembang kembali dipantik lewat penyelenggaraan High-Level Forum on Multi Stakeholders Partnership (HLF MSP) dan Indonesia-Africa Forum (IAF) II atau Forum Tingkat Tinggi Kemitraan Multipihak dan Forum Indonesia-Afrika ke-2 pada September 2024 lalu di Bali.
Tantangan global yang semakin hari semakin beragam dan kompleks membutuhkan adanya aksi nyata yang dilakukan. Sehingga, tujuan dalam pertemuan skala internasional ini salah satunya adalah mempertahankan fokus dalam mewujudkan SDGs.
Indonesia menekankan komitmen untuk menjadi bagian dari solusi global, khususnya membela kepentingan negara-negara Selatan dalam memperjuangkan kesetaraan, keadilan, dan kesejahteraan.
Demi mewujudkan impian tersebut, Indonesia mengusung inisiatif ekonomi biru. Sebuah inisiatif kebijakan ekonomi yang menekankan kepada sektor-sektor kelautan seperti perikanan, energi terbarukan, dan transportasi laut. Potensinya mampu menambah nilai ekonomi lebih dari USD1,5 triliun per tahun dan mendukung lebih dari 30 juta lapangan kerja di seluruh dunia. Sebuah tujuan yang selaras dengan tujuan SDGs poin pertama yaitu mengentaskan kemiskinan.
“Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi biru. Melalui inisiatif ini, kita dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi global. Indonesia dan Asia siap untuk berkolaborasi dengan komunitas internasional untuk memaksimalkan potensi ekonomi biru ini,” ujar Deputi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) Amalia Adininggar Widyasanti di HLF MSP & IAF 2024.
Inisiatif ini pun disambut baik oleh dunia. Banyak negara-negara yang tertarik dan bahkan sudah bekerja sama dalam inisiatif ekonomi biru. Salah satunya adalah Zanzibar, negara kepulauan yang melihat ekonomi biru mendukung komitmen mereka dalam pengembangan sektor maritim dan kelestarian lingkungan laut.
Selain Zanzibar, terdapat juga 10 negara Afrika lain yang memandang potensi kerangka kerja ekonomi biru. Negara-negara tersebut terlibat dalam pelatihan yang dilakukan oleh Indonesian AID atau Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI) yang mendukung kerja sama peningkatan kapasitas bidang perikanan bagi 10 negara Afrika. Negara yang terlibat antara lain Angola, Burundi, Ethiopia, Libya, Madagaskar, Mozambik, Malawi, Namibia, Nigeria, dan Tanzania.
Dalam perkembangannya, kerangka kerja Ekonomi Biru yang potensial juga dilirik oleh negara maju. November lalu, Indonesia baru saja meneken kerja sama Blue Economy dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Kerja sama yang terjalin antara lain pemanfaatan energi laut terbarukan yang berkelanjutan, pengelolaan perikanan dan akuakultur, pariwisata maritim, inovasi, dan kerja sama Industri.
Melalui inisiatif Ekonomi Biru, niscaya Indonesia bersama-sama dengan Negara Selatan lainnya dapat mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat dunia. Yang tidak hanya menguntungkan, namun juga berkelanjutan.
Tag: